Komunitas LGBT Pesimis Ada Wakil Rakyat yang Perjuangkan Aspirasinya

Di tengah-tengah penolakan sebagian masyarakat, para komunitas LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) di Indonesia menyatakan bahwa mereka kehilangan harapan akan sosok pemimpin ataupun wakil rakyat yang mau memperjuangkan aspirasi dan mau menyuarakan hak mereka pada pemilu 2019 nanti.

Paslon 01 dan 02 Tak Ada Agenda Khusus untuk LGBT

Perjuangan yang dimaksud oleh Dede Oetomo, pendiri dari Gaya Nusantara (sebuah organisasi nirlaba yang mana focus pada memperjuangkan hak-hak LBGTIQ) merupakan aspirasi untuk tak diskriminatif di dalam kehidupan sehari-harinya atas dasar orientasi seksual, ekspresi gender dan juga identitas.

“Peduli untuk mengarusutamakan isu keberagaman dan juga kesetaraan gender dan juga seksualitas ke dalam politik pada masa mendatang,” ungkap Dede lewat pesan singkatnya di lansir dari BBC Indonesia. Harapan yang hilang tersebut pasalnya dikonfirmasi tim kampanye kedua paslon.

“Say rasa kita tak punya agenda khusus untuk memperjuangkan LGBT karena bagaimana pun juga, Indonesia ini adalah negara yang berdasarkan pada Pancasila dan juga UUD 1945,” ungkap Andre Rosiade, jubir dari Badan Pemenangan Nasional, Prabowo-Sandi.

Hal serupa juga diungkapkan oleh kubu Jokowi-Ma’ruf Amin. Tak ada agenda khusus yang dilakukan mereka untuk memperjuangkan komunitas LGBT. Tapi kubu-kubu 01 mengaku bahwa mereka berupaya untuk melindungi mereka.

“Sepanjang mematuhi peraturan dan juga perundang-undangan yang ada, tentu saja mereka akan kami lindungi,” kata Arya Sinulinga selaku jubir Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin dikutip dari BBC Indonesia juga.

Harapan yang Sangat Tipis

Bagi Dede, pesta demokrasi judi togel online tahun ini tak “memberikan pertanda baik” bagi komunitas LGBT terkait upaya komunitasnya untuk bisa mendapatkan keadilan dan juga kesetaraan. “Kebanyakan aktivis kami cenderung sangat kecewa,” katanya.

“Caleg-caleg yang (pada pemilu) tahun 2014 menghubungi kami, sudah terpilih, tak sekalipun menyapa kami, apalagi ada yang jadi penyambung lidah kami di DPR,” katanya kecewa dan mencoba kilas balik pileg 2014.

Tahun ini, malahan Dede dan juga komunitasnya yang mencari-cari sosok caleg yang berpotensi bisa menyuarakan aspirasinya. Tapi upaya tersebut diakuinya bisa dijalani dengang “lesu.”

“Ada keraguan untuk mendekati mereka,”katanya. “Yang kami dekati adalah politisi baru yang diharapkan bakal lebih peka lagi di masa mendatang. Politisi baru ini pun, jika dibandingkan dengan yang tahun 2014, rata-rata tidak berani secara eksplisit membela keberagaman gender dan seksualitas,” katanya lagi lebih lanjut.

Nuansa yang pesimis juga sama diungkapkan oleh aktivis LGBT, Yuli Rustinawati. Ia merasa tidak satu pun capres yang mempunyai rekam jejak yang sangat mengesankan soal upaya menjamin hak asasi manusia, terkait dengan hak mereka.

“Dalam konteks dua capres ini, saya melihat tak ada yang berubah, ya… alih-alih, bahkan, bisa jadi malah lebih buruk,” katanya. Ia sendiri menilai bahwa sejarah kelam terkait dengan dugaan pelanggaran HAM yang “membayangi Prabowo” menjadi sebuah batu ganjalan bagi dirinya untuk mempercayai komandan jenderal Kopassus itu.

Begitu juga dengan sosok Presiden Jokowi. Ia menilai banyak pihak terlena dengan pembangunan infrastruktur dan lupa dengan komitmen Jokowi dalam menjamin HAM. “Oke, dia oke. Tapi kemudian, kita paham indeks kemajuan HAM saat dia jadi presiden atau sampai dengan saat ini jadi presiden, namun ini tertutup  dengan banyaknya (pemberitaan) infrastruktur yang dibangunnya.”

Sama dengan apa yang disampaikan oleh Dede, Yuli pun meragukan komitmen caleg-caleg yang maju di pemilu tahun ini.